ALIH KODE DAN CAMPUR KODE PADA POLA KOMUNIKASI DOSEN UNIKOM DI APLIKASI KULIAH ONLINE UNIKOM: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK

Selasa, 17 November 2020 - 10:34
ALIH KODE DAN CAMPUR KODE PADA POLA KOMUNIKASI DOSEN UNIKOM
DI APLIKASI KULIAH ONLINE UNIKOM: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK
 
Ketua : Muhammad Rayhan Bustam, S.S.,  M.Hum.
Anggota : Asih Prihandini, S.S., M.Hum, Nungki Heriyati, S.S., M.A. 
 
Penelitian yang berjudul “Alih Kode dan Campur Kode pada Pola Komunikasi Dosen UNIKOM di Aplikasi Kuliah Online Unikom: Kajian Sosiolinguistik” ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis, bentuk, serta tujuan digunakannya alih kode dan campur kode pada ujaran yang dikemukakan oleh dosen-dosen UNIKOM di aplikasi Kuliah Online. Adapun yang menjadi subjek penelitian ini adalah bahasa yang digunakan oleh dosen-dosen UNIKOM di aplikasi Kuliah Online tersebut, sedangkan objeknya adalah alih kode dan campur kode pada ujaran yang diungkapkan dosen-dosen tersebut.
Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling; yakni mengumpulkan sampel data yang berisikan kasus-kasus alih kode dan campur kode dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik jenis, bentuk, dan tujuan pemakaian alih kode dan campur kode, kemudian dianalisis dengan teknik analisis deskriptif sesuai dengan konteksnya.

Adapun hasil penelitian menunjukkan terdapat 44 kasus terjadinya alih kode dan campur kode pada pola komunikasi dosen UNIKOM di aplikasi Kuliah Online. Dari total kasus tersebut, jenis alih kode yang paling banyak terjadi adalah alih kode intra kalimat atau yang dikenal juga dengan campur kode; persentase penggunaan jenis ini mencapai 86,3% atau setara dengan 38 kasus. Sebaliknya, jenis alih kode yang paling sedikit terjadi adalah alih kode tag; persentase penggunaannya hanya 2,3% atau setara dengan 1 kasus. Sedangkan, jenis alih kode antar kalimat/klausa mencapai persentase 11,4% atau setara dengan 5 kasus. Di sisi lain penggunaan bentuk alih dan campur kode yang ditemukan adalah 11,4% penggunaan bentuk alih dan campur kode intern atau setara dengan 5 kasus; sedangkan, bentuk ekstern mencapai 88,6% atau setara dengan 39 kasus. Dari aspek tujuan penggunaan alih dan campur kode, dari total 26 data terjadinya alih dan campur kode, hanya empat tujuan alih dan campur kode yang ditemukan, yakni: memperhalus permintaan sebanyak 3 kasus atau setara 11,6%, memberikan penekanan dari ungkapan sebanyak 1 kasus atau setara 3,8%, menunjukkan hubungan yang informal/kedekatan sebanyak 4 kasus atau setara 15,4%, dan kebutuhan leksikal sebanyak 18 kasus atau setara 69,2%.