Penerapan Protocol Penilaian Tahap Awal Perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Pada Jaringan Irigasi

Kamis, 15 Oktober 2020 - 09:08
Studi tentang potensi tenaga air menempatkan fokus pada pengembangan tenaga  air di Sumatera (4.408 MW), Jawa (4.595 MW), dan Sulawesi (3.240 MW), yang sejalan dengan perkembangan aktual industri tenaga air. Ketiga pulau ini mencakup 95% dari potensi PLTA yang layak. Sementara potensi PLTMH adalah 770 MW dan sekitar 30% sudah dikembangkan. Sebagian besar Mikrohidro (<1 MW) dan Mini hidro (1-10 MW) menargetkan elektrifikasi pedesaan dengan potensi terbesar di Papua dan Sumatera. Oleh karena itu, dalam konsep optimalisasi pemanfaatan air dan penyelarasan Water Food Energy Nexus, selain modernisasi irigasi, juga perlu dikembangkan pemanfaatan PLTMH pada jaringan irigasi sehingga menghasilkan listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Pemanfaatan jaringan irigasi untuk pengembangan energi listrik PLTMH dalam prakteknya tidak mengganggu aliran air irigasi yang digunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat petani sebab teknologi PLTMH yang digunakan sebagai pembangkit listrik, hanya memanfaatkan aliran air irigasi dengan jumlah volume tertentu, baik pada terjunan maupun pada aspek kecepatan alirannya.  Untuk mengetahui kelengkapan kesiapan pemanfaatan jaringan irigasi untuk PLTMH, perlu dilakukan penilaian (assessment) awal terhadap proses persiapan yang telah dilakukan. Salah satu metode penilaian yang dapat digunakan untuk pembangunan PLTMH adalah dengan menggunakan standar protokol penilaian tenaga air berkelanjutan atau yang dikenal dengan  Hydropower Sustainable Assessment Protocol (HSAP).